Rabu, 22 Desember 2010

sebulan di surabaya

23 desember 2010 tanggal yang istimewa untuk saya. tanggal itu menandakan saya sudah sebulan di surabaya. sampai saat inipun saya masih berfikir, mengapa saya memutuskan untuk melarikan diri ke tempat ini. bukan, bukan masalah tujuan yang saya bingungkan. toh lari kke tempat lain sama saja artinya buat saya. intinya saya melarikan diri dari sesuatu di tempat lama itu.

lalu, kenapa saya menulis ini? ehm.. nggak pasti juga sih. salah satu yang terlintas dalam pikiran saya adalah saya harus mengingat terus pelarian ini. setidaknya dapat menjaga semangat untuk tetap hidup dan tidak menyerah terhadap keadaan yang kualami sekarang. oh ya, tulisan ini terpicu saat saya melihat tulisan teman-teman saya di tempat saya yang lama.

dan ini cerita saya.


tanggal 23 november saya sampai di kota ini. turun di stasiun gubeng jam 7 pagi. uang yang saya miliki tinggal Rp 125000 dan saya tidak punya siapa-siapa disini. target saya cuma satu, saya harus mendapat pekerjaan secepatnya, apapun itu. keluar stasiun saya disambut oleh makanan hangat, soto madura sih katanya, seperti tipikal stasiun lain di indonesia, setiap kita keluar stasiun langsung banyak orang menawarkan jaas angkutan, entah itu becak, ojeg ataupun taksi. orang lain mungkin akan teraasa terbantu dengan hal ini. tapi saya jujur agak jengkel. kenapa? yah,,, saat orang tanpa tujuan yang jelas seperti saya ditanyai terus kemana tujuan saya akan oergi tentu menjengkelkan, ditambah dengan kondisi fisik dan mental yang sudah lelah.

soto telah habis dan sebatang rokok telah sirna, saya akhirnya luluh juga pada tawaran tukang ojeg untuk mengantarkan saya ke warung internet terdekat. tempatnya terletak di dharmawangsa, di depan rumah sakit seingat saya. dan pilihan saya untuk mengunjungi warung internet ternyata bukanlah pilihan yang tepat. alih-alih mencari info lowongan kerja saya malah membaca komik. satu pelajaran bagi saya, saat hatimu masih menyesali keputusan yang dibuat tapi sudah tidak bisa membatalkannya maka kita (saya tepatnya) akan cenderung mencari pelampiasan.

setelah satu minggu dan uang saya bisa dibilang sudah habis, saya terus menyusuri kota surabaya; dengan berjalan kaki tentunya. dharmawangsa, klampis, wonokromo, itulah tempat yang saya kunjungi. dan tidur di pinggir jalan adalah keharusan. satu minggu yang mengerikan buat saya. saya terbiasa untuk hidup di jalan. tapi tanpa uang dan teman baru pertama kali saya lakukan. dan selama satu minggu itu pula hanya air yang saya masukkan ke tubuh saya. ah,, dan saya sempat ingin menangis saat saya meminta air di daerah kejawan di salah satu rumah penduduk disana. saya bukan hanya diberi air tapi dengan baiknya tuan rumah memberi saya makanan kecil. dan itu membuat saya tersadar saya telah benar-benar meninggalkan sesuatu yang menyenangkan, walaupun terlihat biasa ketika saya masih menikmatinya.

sementara bersambung dulu..

saatnya tidur...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar